VCI JABAR 101. GRUP 6.2 



Judul Buku             :      Menumbuhkan Kemandirian Pada Anak
Penulis                    :      Anggiastri Hanantyasari Utami dkk
Penerbit                   :     Direktorat Pendidikan Pembinaan Keluarga
                                       Direktorat Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
                                       Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Sumber                    :     rumabelajar.id
Jumlah Halaman     :     30 halaman
Di Review Oleh      :      Lina Susanti, S.Pd – SDN. Sariwangi Parongpong


      Mendidik anak  merupakan upaya yang penuh tantangan dan harapan bagi orang tua. Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi pembentukan pribadi dan karakter setiap individu. Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak akan sangat bergantung pada kecakapan pola asuh yang dimilikinya. Menurut James Dobson, anak-anak adalah titipan tuhan pada kita untuk dicintai dan diajarkan nilai-nilai keidupan, sehinggga mereka adapat membangun pondasi masa depan mereka nantinya.  Menumbuhkan kemandirian adalah salah satu pendidikan yang harus kita ajarkan dan latih pada anak.


Apa itu Kemandirian pada Anak ?

Kemandirian adalah kemampua anak untuk bisa melakukan berbagai kegiatan, mengatur dan memilih serta memutuskan dengan percaya diri dan bertanggung jawab. 

Faktor Apa Saja yang Mempengaruhi Kemandirian Anak ?


Yang mempengaruhi adalah :
  • Perilaku sehari-hari orang tua, guru, lingkungan dan media
  • Pembiasaan yang dilakukan di keluarga,sekolah, dan masyarakat
  • Pengalaman anak dalam menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut

Apa Manfaat Kemandirian pada Anak ?

Manfaat Kemandirian bagi anak :  
                       
  • Menumbuhkan rasa percaya diri       
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab
  • Mengembangkan daya tahan fisik dan mental
  • Menumbuhkan kreativitas
  • Tanggap dalam berfikirdan bertindak

Mengapa perlu diajarkan kemandirian ?

Anak perlu diajarkan kemandirian karena :
  • Mempersiapkan anak untuk bertanggungjawab terhadap kehidupannnya sendiri
  • Melatih anak untuk belajarmenentukan pilihannnya sendiri
  • kemandirian anak tidak terbentuk dengan sendirinya, sehingga orang tua perlu melatih


Bagaimana Cara Menumbuhkan Kemandirian pada Anak ?

Peran orang tua dalam menumbuhkan kemandirian pada anak, antara lain :
  • Sebagai teladan : orang tua mencontohlna perilaku mandiri di rumah
  • Sebaga pembimbing : orang tua mengarahkan dalam berperilaku mandiri
  • Sebagai pemberi penghargaan :  orang tua memberikan pujian dan motivasi atas kemandirian yang dilakukan anak
  • Sebagai pelatih : orang tua melatih kemandirian anak melalui pembiasaan agar anak mampu memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri


Bagaimana Tahapan Menumbuhkan Kemandirian pada Anak ?

Tahapan usia untuk menumbuhkan kemandirian pada anak, orang tua dapat melakukan :

Usia 0 - 1 Tahun

  • Memberikan kesempatan anak untuk bergerak bebas dan tidak selalu digendong dengan tetap memperhatikan keselamatan anak
  • Menyelesaikan ruang untuk bergerak dengan bebas
  • Menyediakan peralatan yang memudahkan anak untuk bisa melakukan sendiri
  • Melatih anak untuk bisa makan dan minum sendiri
  • Memberikan kesempatan memilih apa yang disukai anak selama tidak membahayakan
  • Memberikan pujian atas pilihan anak
Usia 1 - 3 Tahun
  • Memberikan kesempatan anak untuk melakukan kegiatan merawat dirinya sendiri
  • Menghormati dan memberikan kesempatan anak untuk menentukan pilihannnya sendiri
  • Membuat aturan bersama
  • Memberikan kesempatan untuk bermain
  • Memberikan pujian atas usaha anak

Usia 3 - 6 Tahun
  • Memberikan anak kesempatan untuk merawat diri sendiri
  • Menghormati dan memberikan kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri
  • Memberikan anak kesempatan untuk membantu orang tua
  • Menjelaskan pentingnya aturan dan memberikan motivasi
  • Memberikan pujian atas usaha anak

Usia 6 - 12 Tahun

  • Memberikan anak kesempatan untuk merawat diri sendiri
  • Menghormati dan memberikan kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri
  • Mengajak anak berdiskusi
  • Membuat aturan bersama di rumah
  • Mendiskusikan aturan yang ada didalam dan luar rumah dan mengapa aturan tersebut harus ditaati
  • Memberikan kepercayaan kepada anak dapat mengerjakan tugas mandiri, memilih teman, mengatur waktuMemberikan pujian atas usaha anak

Usia 12 - 18 Tahun
  • Berdiskusi tentang cita-cita dan rencana masa depannnya
  • Berdiskusi tentang kesulitan yang dihadapinya
  • Berdiskusi dengan anak tentang kemampuan keluarganya dan bagaimana menghadapi kendalanya
  • Berdiskusi tentang alternatif pilihannya
  • Mendorong nak untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler
  • Membimbing anak membuat catatan keuangan sederhana
  • Mengajak anak untuk melakukan evaluasi atas kepercyaan dan pilihannnya dan memberikan pujian atas usaha yang dilakukannnya.

Demikian tahapan yang diuraikan dalam buku ini dalam menumbuhkan kemandirian pada anak. Sebagai orang tua kita harus terus belajar dalam mendampingi mereka agar menjadi sosok yang berkarakter , berbudaya dan berprestasi.

Semoga bermanfaat
View Post

VCI 101 JABAR 6 GRUP 6.2


Judul Buku          :   Menumbuhkan Kepekaan Lokal di Sekolah dasar
Penulis                 :  Dewi Utama Faizah  
Tahun Terbit        :  Januari 2019
Penerbit               :  Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan  
                                dan  Kebudayaan
Jumlah Halaman  :  23 Halaman   
ISBN                    :  978-602-1389-52-2
Review konten     :  rumahbelajar.id
Di Review oleh    :  Lina Susanti, S.Pd - SDN.Sariwangi Parongpong KBB

Buku ini terdiri dari IV Bab . Bab I. pendahuluan, Bab II. Pelaksanaan, Bab III. Contoh Praktik Budaya di Sekolah dan Bab. IV Penutup.

Buku Menumbuhkan Kepekaan Budaya Lokal di Sekolah dasar
Sumber  :  rumahbelajar.id




BAB I. PENDAHULUAN

      Dalam Bab ini diuraikan bagaimana kemampuan anak dalam bercakap sebagai bagian yang amat penting pada saat anak memasuki Sekolah Dasar. Ternyata 'bahasa Ibu' yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari anak memainkan peran  penting dalam tumbuh kembang proses literasi di sekolah. Kekayaan bahasa lisan/oral ini ditunjukkan dengan perolehan jumlah kosakata yang nantinya di sekolah dasar akan digunakan untuk menguatkan kegiatan membaca dan menulis serta mata pelajaran lainnya.
      Untuk bisa bercakap dengan baik, seorang anak berusia 7 tahun membutuhkan kosakata 6.000 hingga 8.000. Dari sanalah kemudian anak mengembangkan kemampuan lainnya untuk berkomunikasi dengan orang lain, seperti berdiskusi,bertanya,menjawab, dan berbagai hal lainnya untuk memenuhi tugas perkembangannya.
      Seni berbahasa secara ekspresif melalui bercakap-cakap membutuhkan proses waktu yang lama. Semakin banyak anak menguasai kosakata, maka akan semakin baik ia menampilkan kemampuan membaca dan menulis. Saatnya praktik-praktik  muatan lokal yang selama ini terabaikan harus digeliatkan lagi dari ruang kelas di Indonesia.

Baca  :  Anggit Angglang Literasi Keluarga

A. Pentingnya Budaya Melalui Mulok di Sekolah

      Kelas adalah miniatur masyarakat. Di Indonesia anak datang dari berbagai etnis seperti Sunda, Betawi, Minang, Jawa , Bugis dan lain-lain, yang akan melebur dalam sebuah kelas yang multiluktural. Interaksi sosial dan pesan budaya yang ditampilkan di sekolah dasar Indonesia yang penuh keberagaman.
      Dari sinilah kelak fungsi proses pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi bermakna karena akan dibangun dan ditumbuhkan seni berbahasa Indonesia melalui koneksi bahasa ibu, permainan tradisional, bernyanyi, kerajinan tangan dan hal lainnya yang diperlukan anak usia sekolah dasar.

B. Kekuatan Budaya Muatan Lokal dalam Proses Literasi

      Konsep pengetahuan dimana latar budaya anak adalah harta karun yang harus difungsikan dalam sistem pendidikan di sekolah. Bagaimana pengetahuan dan kecakapan memberi nilai tambah seperti cara hidup sehari-hari, bermasyarakat, beragama, memasak dan sebagainya.
      Guru harus dapat menjembatani gaya hidup di rumah dan sekolah lewat rancangan pembelajaran yang protagonis (kaya budaya dan karakter), melalui rancangan pelaksanaan pembelajaram (RPP) yang sesuai dengan kebutuhan dimana mereka hidup ,
Contohnya :
  • Aceh dengan kehidupan spiritual yang kuat
  • Papua dengan kehidupan alamiah yang kuat
  • Bali dalam kehidupan adat dan tradisi yang kuat
C. Hubungan Budaya dan Kualitas Pendidikan

      Menurut Frederich Frobel ,anak piawai berbahasa bukan karena belajar tata bahasa. Mereka justru pintar karena memperoleh kosa kata dari ibu dan dari orang-orang terdekat dengan lingkungannya.
     Lokal inisiatif dimana anak hadir melalui pesan budaya, sehingga terjadi akselerasi"ZPD", Zona of Proximal Development seperti yang digagas Vygotsky. Anak-anak Indonesia belajar melalui azas bernegara Bhineka Tunggal Ika dan penanaman nilai-nilai kebangsaan yang sudah ditanamkan sejak dulu.
      Pembelajaran yang berbasis budaya dan interaksi sosial. Guru harus mampu membumikan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak pada zaman di mana mereka hidup.

Baca  :  Sacima

BAB II. PELAKSANAAN

      Melaksanakan hadirnya budaya dalam kegiatan di sekolah membutuhkan sinergi kolaborasi dari guru-guru pembelajar disetiap gugus yang 'protagonis', juga membutuhkan perguruan tinggi yang melahirkan calon guru yang bermental guru pembelajar yang memahami ilmu pedagogi yang telah siap mendampingi peserta didik yang datang dari beragam sosial budaya yang berbeda. Salah satu caranya adalah membuat komunitas guru pembelajar sadar budaya yang melakukan pendampingan literasi yang menguatkan budaya lokal.
      Mengapa budaya begitu diutamakan ? karena ada 746 bahasa ibu dari berbagai suku, yang bisa menjadi tumpuan kegiatan literasi sehingga terjadi dialog budaya di kelas. Kelas menjadi kaya dengan literasi, buku bacaan lokal yang beragam, melahirkan guru protagonis dan guru literat.

Baca  :  Kolecer dan Candil

BAB III. CONTOH PRAKTIK BUDAYA DI SEKOLAH

A. Pojok Budaya di Dalam Kelas

     Ada pojok budaya yang memuat aneka ragam permainan tradisional seperti upih kelapa, ketapel, layang-layang, danguang, peralatan memasak kuno suku Minangkabau,  semuanya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan.

Contoh Perangkat Budaya di Kelas
Sumber : Buku Seri Manual GLS 
                         
Selain itu kelas dipenuhi oleh aroma tanaman herbal yang dibawa oleh siswa dari rumah. Disamping itu  mereka memasak bersama makanan tradisional, menyiapkan acara adat, menari dan kegiatan lainnya.


 B. Buku Bacaan Berbasis Lokal   

      Kehadiran buku-buku penunujang literasi sekolah dengan bergenre dongeng, buku fiksi, dan nonfiksi    akan membantu tumbuhnya kegiatan literasi berbasis kontekstual (mulok) dan menguatkan siswa dalam melangsungkan proses multiliterasi dengan tuntutan zaman.
     Kehadiran buku cerita berbasis akan menampilkan tradisi budaya di lingkungan mereka yang kaya, mereka bangga terhadap budaya mereka. Namun yang harus diingat buku bacaan berbasis budaya adalah buku budaya yang tumbuh pada suku yang ada di lingkungan tersebut, bukan buku hasil terjemahan yang dialihbahasakan ke budaya lokal. Seperti Papua dengan 77 buah buku yang telah berhasil dibuat  dengan berbasis budaya lokal setempat.

C. Praktik Budaya Dakam Kegiatan Ekstrakulikuler

      Mengajak siswa melakukan praktik budaya lokal, misalnya makan bersama dan memasak bersama makanan khas daerah tersebut.


Contoh Praktik Membacakan Buku Berbasis Budaya Minang
Sumber : Buku  Manual GLS




Praktik Budaya dalam Kegiatan Ekstrakulikuler
Sumber : Buku Manual GLS






















BAB, IV PENUTUP
      
      Memediasi budaya yang beragam melalui kegiatan literasi adalah suatu keniscayaan. Gerakan literasi harus mampu   menggali pendidikan di Indonesia . Pelaksanaan muatan lokal akan terasa mengasyikan jika guru memahami budaya. Karena kehadiran guru yang memahami budaya merupakan interaksi utama sukses atau gagalnya komunitas guru protagonis dan literat.



Demikian review mengenai  Menumbuhkan Kepekaan Budaya Lokal DI Sekolah Dasar, semoga bermanfaat.

Salam literasi







View Post